Kali ini saya mau kembali bercerita, dengan pengalam iman dan kehidupan pribadi saya selama 2 minggu ini. Saya mau sedikit bercerita menuangkan beberapa pikiran dan perasaan saya ke dalam blog saya tercinta ini
Bermula dari hubungan saya dengan pacar saya di 8 april yang menjadi puncak dari beberapa bulan terakhir ini.
Awalnya karena emang keharusan dia untuk menjalani kuliahnya di salah satu sekolah bisnis terbaik S2 di Indonesia. Begitu berat dan tidak mudah prosesnya untuk bisa kuliah di tempat itu. Saya sangat mengerti beratnya beban yang harus dia pikul sampai detik ini. Saya selalu rebut dan sedikit egois dengan meminta kami bertemu seminggu lebih dari 1kali, karena saya tahu dulu sejak awal kami pacaran, kami bertemu bisa 3-4 kali dalam satu minggu. Hamper setiap minggu saya menyibukkan diri saya dengan menghapus air mata saya karena ingin bertemu. Tapi apa daya, kesibukannya yang begitu tinggi hanya membuat saya mengkhayalkan hal itu. Hingga pada akhirnya, di malam itu saya kembali menangis dan sedikit meminta untuk mencoba dia mengerti perasaan rindu saya. Sampai akhirnya dia marah dan mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan untuk saya. “kalau udah ngga kuat, dan merasa dia menjadi beban untuk saya, sudahi saja”. Simple words yang sangat perih.
Setelah malam itu, keadaan kembali normal, dengan tekad baru saya, mengerti keadaan dan posisi dia saat ini. Tanpa manja, tanpa beban, terima dengan sukacita keadaan seperti ini, Novia. Saya ulangi kalimat itu dalam diri saya, saya member sugesti kedalam pikiran saya, just be a strong girl, Novia.
Dan saya mampu dengan bantuan Yesus, meskipun masih sedikit tergopoh2 menjalankannya..
Setelah malam itu, keadaan menjadi seperti biasanya. Hingga suatu pagi, entah ada angin apa, saya merasa begitu sedih, karena (lagi-lagi) mengingat masa dulu kami bersama. Tak pernah 1hari pun dia absen mengirimkan saya “good morning” yang membuat hari saya semakin bersemangat. Dan pagi itu saya menangis tanpa tahu kapan air mata ini bisa berhenti. Simple action, make a big change. Perasaan saya pagi itu benar2 membuat hari saya terasa kurang baik. Saya mencoba mengembalikan mood saya untuk kembali bersemangat. Ya, saya berdoa. Beri saya kekuatan lebih untuk ini semua, Lord. Saat itu terasa ada damai yang melingkupi saya, meskipun sebagai manusia, masih ada rasa takut,khawatir, tapi saya belajar untuk berserah.
Hari demi hari berlalu… begitu tawar hubungan ini. Dia yang biasa begitu perhatian, ternyata semakin berkurang. Saya merasakannya begitu kuat di dalam diri saya. I know he is having ‘something secret’ that I don’t know. Saya berusaha untuk tidak bertanya sampai dia sendiri yang mau bercerita, apa yang terjadi sebenarnya. Dan ternyata hari ini terungkap sudah. Finally, apa yang menjadi kekhawatiran, kebimbangan dia sudah bisa terjawab. Dia mau bercerita apa yang dia rasakan saat ini. Begitu lega mendengar kejujurannya, bahwa dia sedang jenuh dengan hubungan kami. Saya paham betul dan mengerti betul keadaan ini. Manusia, ya tetaplah manusia, bisa merasakan bosan dan jenuh dengan rutinitas yang terlihat begitu monoton. Tapi disitulah tantangannya, bagaimana kita membuat itu menjadi sesuatu yang dinamis, dan tidak membosankan.
Bagaimana caranya supaya tidak jenuh? Apakah kembali mengulangi kesalahan yang dulu? Saya tidak berpikir seperti itu. Cobalah sesuatu yang baru, bukannya kembali kepada yang lalu. Disaat seperti ini, saya hanya teringat kembali ke masalah besar pertama yang saya hadapi. Kesetiaan. Dimana sebuah hati, mulai tidak bisa focus dengan satu hal, dan menjadi bercabang. Tapi saya diingatkan oleh 1 ayat yang begitu pas dengan hal ini, “bukankah kamu harus mengampuni tujuh puluh tujuh kali tujuh kali?” Ya, 1 hal yang dituntut Tuhan untuk kita bisa mengampuni orang lain. Tidak mudah memang, tapi pasti bisa, karena saya dan anda tidak berjalan sendiri, kita bersama dengan Tuhan dan Roh kudus. Kembali kepada iman kita, dan tujuan utama.
Disaat seperti ini, masalah yang datang begitu bertubi-tubi, tapi Tuhan selalu berharap kita mendekat kepada Tuhan. Dia rindu kita datang kembali kepada Dia. Dan ketika saya berdoa, Tuhan benar-benar menguatkan saya dan menyadarkan saya, bahwa anak Tuhan adalah anak yang berbeda dengan anak dunia dalam sudut pandangnya melihat suatu masalah. Melalui banyak kejadian ini saya melihat bahwa, Tuhan memberikan saya masalah dengan pacar saya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan saja, mencoba menggantungkan diri dan bersandar kepada DIA. Bukan dengan kekuatan sendiri saya mampu berjalan, tapi karena firman, doa dan komunitas serta teman2 saya
Disaat seperti ini juga Tuhan menegur saya melalui satu ayat, “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:4-5). Kesengsaraan yang pada akhirnya menimbulkan pengaharapan, yang TIDAK mengecewakan, yang berasal dari Allah.
Dari begitu banyak cerita dan pengalaman yang saya alami, hanya satu kunci kekuatan saya sampai detik ini. Doa dan Firman Tuhan.
Jika saya berdoa tanpa membaca firman, apa yang akan saya dapat? saya tidak pernah tahu apa yang Tuhan janjikan kepada dombaNya ketika saya tidak pernah membaca apalagi mendengarkan Dia.
Bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan personality tidak mudah. Tapi saya percaya saya bisa, perlahan demi perlahan. Serahkan hidupmu kedalamTuhan, dan biar Tuhan yang berkarya dalam hidup kita. Selamat malam teman, goodnite, God bless your life all
~strawberrygirls~