Cerita tentang pohon dan paku ~ a classic story
Suatu hari yang berbahagia, datanglah seorang anak kepada ayahnya. Anak itu bercerita kepada ayahnya tentang kejadian yang menimpanya di sekolah. Anak itu bercerita bahwa dia pernah berbuat salah, menyakiti temannya di sekolah. Dia merasa sangat bersalah sekali kepada temannya itu. Dan anak itu menangis kepada ayahnya karena teman yang disakitinya itu menjauhi dia dan tidak memaafkan dia. Anak itu bertanya-tanya kenapa tega-teganya dia berbuat seperti itu.
Lalu ayahnya yang bijak menjawab dengan sebuah jawaban yang bijak. Anak itu disuruhnya mengambil paku dan palu di gudang. Diajaknya anak itu ke taman yang di tamannya tersebut terdapat pohon besar. Ayahnya lalu menyuruh anak itu menancapkan paku-paku tersebut pada pohon besar tadi. Si anak masih bingung untuk apa maksud ini semua. Tapi ayah anak tadi masih tetap tenang. Setelah ditancapkan, si ayah menyuruh si anak melihat hasil paku-paku tadi dan menyuruh membuka paku-paku yang telah ditancapkan tadi dengan menggunakan ujung palu.
Setelah selesai, Si ayah mengajak si anak untuk melihat bekas paku-paku tadi pada pohon besar tersebut. “Lihatlah nak,…..hasil paku yang telah kautancapkan pada pohon ini. Setiap kau berbuat salah pada otang lain, maka pada saat itu pula kau menancapkan sebuah paku di hati temanmu itu. Dan setiap kali kau berbuat kebajikan untuk temanmu itu, maka pada saat itu berarti kau membuka sebuah paku di hati temanmu itu. Walau kau berbuat kebaikan, tapi lihatlah pohon itu…masih berbekas bukan? Hati temanmu pun seperti itu nak……”
29 April 2012
23 April 2012
Tuhan bekerja dalam masalah saya !
Kali ini saya mau kembali bercerita, dengan pengalam iman dan kehidupan pribadi saya selama 2 minggu ini. Saya mau sedikit bercerita menuangkan beberapa pikiran dan perasaan saya ke dalam blog saya tercinta ini
Bermula dari hubungan saya dengan pacar saya di 8 april yang menjadi puncak dari beberapa bulan terakhir ini. Awalnya karena emang keharusan dia untuk menjalani kuliahnya di salah satu sekolah bisnis terbaik S2 di Indonesia. Begitu berat dan tidak mudah prosesnya untuk bisa kuliah di tempat itu. Saya sangat mengerti beratnya beban yang harus dia pikul sampai detik ini. Saya selalu rebut dan sedikit egois dengan meminta kami bertemu seminggu lebih dari 1kali, karena saya tahu dulu sejak awal kami pacaran, kami bertemu bisa 3-4 kali dalam satu minggu. Hamper setiap minggu saya menyibukkan diri saya dengan menghapus air mata saya karena ingin bertemu. Tapi apa daya, kesibukannya yang begitu tinggi hanya membuat saya mengkhayalkan hal itu. Hingga pada akhirnya, di malam itu saya kembali menangis dan sedikit meminta untuk mencoba dia mengerti perasaan rindu saya. Sampai akhirnya dia marah dan mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan untuk saya. “kalau udah ngga kuat, dan merasa dia menjadi beban untuk saya, sudahi saja”. Simple words yang sangat perih. Setelah malam itu, keadaan kembali normal, dengan tekad baru saya, mengerti keadaan dan posisi dia saat ini. Tanpa manja, tanpa beban, terima dengan sukacita keadaan seperti ini, Novia. Saya ulangi kalimat itu dalam diri saya, saya member sugesti kedalam pikiran saya, just be a strong girl, Novia. Dan saya mampu dengan bantuan Yesus, meskipun masih sedikit tergopoh2 menjalankannya.. Setelah malam itu, keadaan menjadi seperti biasanya. Hingga suatu pagi, entah ada angin apa, saya merasa begitu sedih, karena (lagi-lagi) mengingat masa dulu kami bersama. Tak pernah 1hari pun dia absen mengirimkan saya “good morning” yang membuat hari saya semakin bersemangat. Dan pagi itu saya menangis tanpa tahu kapan air mata ini bisa berhenti. Simple action, make a big change. Perasaan saya pagi itu benar2 membuat hari saya terasa kurang baik. Saya mencoba mengembalikan mood saya untuk kembali bersemangat. Ya, saya berdoa. Beri saya kekuatan lebih untuk ini semua, Lord. Saat itu terasa ada damai yang melingkupi saya, meskipun sebagai manusia, masih ada rasa takut,khawatir, tapi saya belajar untuk berserah. Hari demi hari berlalu… begitu tawar hubungan ini. Dia yang biasa begitu perhatian, ternyata semakin berkurang. Saya merasakannya begitu kuat di dalam diri saya. I know he is having ‘something secret’ that I don’t know. Saya berusaha untuk tidak bertanya sampai dia sendiri yang mau bercerita, apa yang terjadi sebenarnya. Dan ternyata hari ini terungkap sudah. Finally, apa yang menjadi kekhawatiran, kebimbangan dia sudah bisa terjawab. Dia mau bercerita apa yang dia rasakan saat ini. Begitu lega mendengar kejujurannya, bahwa dia sedang jenuh dengan hubungan kami. Saya paham betul dan mengerti betul keadaan ini. Manusia, ya tetaplah manusia, bisa merasakan bosan dan jenuh dengan rutinitas yang terlihat begitu monoton. Tapi disitulah tantangannya, bagaimana kita membuat itu menjadi sesuatu yang dinamis, dan tidak membosankan. Bagaimana caranya supaya tidak jenuh? Apakah kembali mengulangi kesalahan yang dulu? Saya tidak berpikir seperti itu. Cobalah sesuatu yang baru, bukannya kembali kepada yang lalu. Disaat seperti ini, saya hanya teringat kembali ke masalah besar pertama yang saya hadapi. Kesetiaan. Dimana sebuah hati, mulai tidak bisa focus dengan satu hal, dan menjadi bercabang. Tapi saya diingatkan oleh 1 ayat yang begitu pas dengan hal ini, “bukankah kamu harus mengampuni tujuh puluh tujuh kali tujuh kali?” Ya, 1 hal yang dituntut Tuhan untuk kita bisa mengampuni orang lain. Tidak mudah memang, tapi pasti bisa, karena saya dan anda tidak berjalan sendiri, kita bersama dengan Tuhan dan Roh kudus. Kembali kepada iman kita, dan tujuan utama.
Disaat seperti ini, masalah yang datang begitu bertubi-tubi, tapi Tuhan selalu berharap kita mendekat kepada Tuhan. Dia rindu kita datang kembali kepada Dia. Dan ketika saya berdoa, Tuhan benar-benar menguatkan saya dan menyadarkan saya, bahwa anak Tuhan adalah anak yang berbeda dengan anak dunia dalam sudut pandangnya melihat suatu masalah. Melalui banyak kejadian ini saya melihat bahwa, Tuhan memberikan saya masalah dengan pacar saya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan saja, mencoba menggantungkan diri dan bersandar kepada DIA. Bukan dengan kekuatan sendiri saya mampu berjalan, tapi karena firman, doa dan komunitas serta teman2 saya Disaat seperti ini juga Tuhan menegur saya melalui satu ayat, “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:4-5). Kesengsaraan yang pada akhirnya menimbulkan pengaharapan, yang TIDAK mengecewakan, yang berasal dari Allah. Dari begitu banyak cerita dan pengalaman yang saya alami, hanya satu kunci kekuatan saya sampai detik ini. Doa dan Firman Tuhan.
Jika saya berdoa tanpa membaca firman, apa yang akan saya dapat? saya tidak pernah tahu apa yang Tuhan janjikan kepada dombaNya ketika saya tidak pernah membaca apalagi mendengarkan Dia. Bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan personality tidak mudah. Tapi saya percaya saya bisa, perlahan demi perlahan. Serahkan hidupmu kedalamTuhan, dan biar Tuhan yang berkarya dalam hidup kita. Selamat malam teman, goodnite, God bless your life all
~strawberrygirls~
Bermula dari hubungan saya dengan pacar saya di 8 april yang menjadi puncak dari beberapa bulan terakhir ini. Awalnya karena emang keharusan dia untuk menjalani kuliahnya di salah satu sekolah bisnis terbaik S2 di Indonesia. Begitu berat dan tidak mudah prosesnya untuk bisa kuliah di tempat itu. Saya sangat mengerti beratnya beban yang harus dia pikul sampai detik ini. Saya selalu rebut dan sedikit egois dengan meminta kami bertemu seminggu lebih dari 1kali, karena saya tahu dulu sejak awal kami pacaran, kami bertemu bisa 3-4 kali dalam satu minggu. Hamper setiap minggu saya menyibukkan diri saya dengan menghapus air mata saya karena ingin bertemu. Tapi apa daya, kesibukannya yang begitu tinggi hanya membuat saya mengkhayalkan hal itu. Hingga pada akhirnya, di malam itu saya kembali menangis dan sedikit meminta untuk mencoba dia mengerti perasaan rindu saya. Sampai akhirnya dia marah dan mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan untuk saya. “kalau udah ngga kuat, dan merasa dia menjadi beban untuk saya, sudahi saja”. Simple words yang sangat perih. Setelah malam itu, keadaan kembali normal, dengan tekad baru saya, mengerti keadaan dan posisi dia saat ini. Tanpa manja, tanpa beban, terima dengan sukacita keadaan seperti ini, Novia. Saya ulangi kalimat itu dalam diri saya, saya member sugesti kedalam pikiran saya, just be a strong girl, Novia. Dan saya mampu dengan bantuan Yesus, meskipun masih sedikit tergopoh2 menjalankannya.. Setelah malam itu, keadaan menjadi seperti biasanya. Hingga suatu pagi, entah ada angin apa, saya merasa begitu sedih, karena (lagi-lagi) mengingat masa dulu kami bersama. Tak pernah 1hari pun dia absen mengirimkan saya “good morning” yang membuat hari saya semakin bersemangat. Dan pagi itu saya menangis tanpa tahu kapan air mata ini bisa berhenti. Simple action, make a big change. Perasaan saya pagi itu benar2 membuat hari saya terasa kurang baik. Saya mencoba mengembalikan mood saya untuk kembali bersemangat. Ya, saya berdoa. Beri saya kekuatan lebih untuk ini semua, Lord. Saat itu terasa ada damai yang melingkupi saya, meskipun sebagai manusia, masih ada rasa takut,khawatir, tapi saya belajar untuk berserah. Hari demi hari berlalu… begitu tawar hubungan ini. Dia yang biasa begitu perhatian, ternyata semakin berkurang. Saya merasakannya begitu kuat di dalam diri saya. I know he is having ‘something secret’ that I don’t know. Saya berusaha untuk tidak bertanya sampai dia sendiri yang mau bercerita, apa yang terjadi sebenarnya. Dan ternyata hari ini terungkap sudah. Finally, apa yang menjadi kekhawatiran, kebimbangan dia sudah bisa terjawab. Dia mau bercerita apa yang dia rasakan saat ini. Begitu lega mendengar kejujurannya, bahwa dia sedang jenuh dengan hubungan kami. Saya paham betul dan mengerti betul keadaan ini. Manusia, ya tetaplah manusia, bisa merasakan bosan dan jenuh dengan rutinitas yang terlihat begitu monoton. Tapi disitulah tantangannya, bagaimana kita membuat itu menjadi sesuatu yang dinamis, dan tidak membosankan. Bagaimana caranya supaya tidak jenuh? Apakah kembali mengulangi kesalahan yang dulu? Saya tidak berpikir seperti itu. Cobalah sesuatu yang baru, bukannya kembali kepada yang lalu. Disaat seperti ini, saya hanya teringat kembali ke masalah besar pertama yang saya hadapi. Kesetiaan. Dimana sebuah hati, mulai tidak bisa focus dengan satu hal, dan menjadi bercabang. Tapi saya diingatkan oleh 1 ayat yang begitu pas dengan hal ini, “bukankah kamu harus mengampuni tujuh puluh tujuh kali tujuh kali?” Ya, 1 hal yang dituntut Tuhan untuk kita bisa mengampuni orang lain. Tidak mudah memang, tapi pasti bisa, karena saya dan anda tidak berjalan sendiri, kita bersama dengan Tuhan dan Roh kudus. Kembali kepada iman kita, dan tujuan utama.
Disaat seperti ini, masalah yang datang begitu bertubi-tubi, tapi Tuhan selalu berharap kita mendekat kepada Tuhan. Dia rindu kita datang kembali kepada Dia. Dan ketika saya berdoa, Tuhan benar-benar menguatkan saya dan menyadarkan saya, bahwa anak Tuhan adalah anak yang berbeda dengan anak dunia dalam sudut pandangnya melihat suatu masalah. Melalui banyak kejadian ini saya melihat bahwa, Tuhan memberikan saya masalah dengan pacar saya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan saja, mencoba menggantungkan diri dan bersandar kepada DIA. Bukan dengan kekuatan sendiri saya mampu berjalan, tapi karena firman, doa dan komunitas serta teman2 saya Disaat seperti ini juga Tuhan menegur saya melalui satu ayat, “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:4-5). Kesengsaraan yang pada akhirnya menimbulkan pengaharapan, yang TIDAK mengecewakan, yang berasal dari Allah. Dari begitu banyak cerita dan pengalaman yang saya alami, hanya satu kunci kekuatan saya sampai detik ini. Doa dan Firman Tuhan.
Jika saya berdoa tanpa membaca firman, apa yang akan saya dapat? saya tidak pernah tahu apa yang Tuhan janjikan kepada dombaNya ketika saya tidak pernah membaca apalagi mendengarkan Dia. Bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan personality tidak mudah. Tapi saya percaya saya bisa, perlahan demi perlahan. Serahkan hidupmu kedalamTuhan, dan biar Tuhan yang berkarya dalam hidup kita. Selamat malam teman, goodnite, God bless your life all
~strawberrygirls~
08 April 2012
4 magic medicines
Seorang anak muda. Ia telah berusaha memberikan dasar yang kokoh bagi keluarganya. Namun ia menemukan kekosongan di dasar sanubarinya. Ia dilanda kecemasan dan kehilangan arah hidup. Semakin hari situasinya semakin parah. Ia memutuskan untuk pergi ke dokter sebelum menjadi amat terlambat.
Artikel Terkait
Setelah mendengarkan keluhannya, dokter memberikan empat bungkus obat sambil berpesan; "Besok pagi sebelum jam sembilan pagi engkau harus menuju pantai seorang diri sambil membawa ke empat bungkus obat ini. Jangan membawa buku atau majalah. Juga jangan membawa radio atau tape. Di pantai nanti anda membuka bungkusan obat sesuai dengan waktu yang tercatat pada bungkusannya, yakni pada jam sembilan, jam dua belas, jam tiga dan jam lima. Dengan mengikuti resep yang ada di dalamnya aku yakin penyakitmu akan sembuh."
Orang tersebut berada di antara percaya dan ragu akan resep yang diberikan dokter. Namun demikian pada hari berikutnya ia pergi juga ke pantai. Begitu tiba di pesisir pantai di pagi hari, sementara matahari pagi mulai muncul di ufuk timur dan laut biru memantulkan kembali sinarnya yang merah keemasan itu, sambil deru ombak datang silih berganti, hatinya dipenuhi kegembiraan yang amat dalam.
Tepat jam sembilan, ia membuka bungkusan obat yang pertama. Tapi tak ia dapati obat didalamnya, cuma secarik kertas dengan tulisan: "Dengarlah". Aneh bin ajaib, orang tersebut patuh pada apa yang diperintahkan. Ia lalu duduk tenang mendengarkan desiran angin pantai serta deburan gelombang yang memecah bibir pantai. Ia bahkan secra perlahan-lahan mampu mendengarkan setiap detak jantungnya sendiri yang menyatu dengan melodi musik alam di pantai itu. Telah begitu lama ia tak pernah duduk dan menjadi sungguh tenang seperti hari ini. Ia terlampau sibuk dengan usahanya. Saat ini ia merasa seakan-akan jiwanya dibasuh bersih.
Jam dua belas tepat. Ia membuka bungkusan obat yang kedua. Tentu seperti halnya bungkusan yang pertama, tak ada obat yang didapati kecuali selembar kertas bertulis; "Mengingat". Ia beralih dari mendengarkan musik pantai yang indah dan nyaman itu dan perlahan-lahan mengingat setiap jejak langkahnya sendiri sejak kanak-kanak. Ia mengingat masa-masa sekolahnya dulu, mengingat kedua orang tuanya yang senantiasa memancarkan kasih di wajah mereka. Ia juga mengingat semua teman yang ia cintai dan tentu juga mencintainya. Ia merasakan ada segumpal kekuatan dan kehangatan hidup memancar dari dasar bathinnya.
Ketika ia membuka bungkusan ketiga saat waktu menunjukan jam tiga tepat, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan: "Menimbang dan menilai motivasi". Ia memejamkam mata, memusatkan perhatiannya untuk menilai kembali niat pertama ketika ia membangun usahanya. Saat itu yang menjadi inspirasi utama ia membuka usahanya adalah secara gigih bekerja untuk melayani kebutuhan sesamanya. Namun ketika usahanya kini telah memperoleh bentuknya, ia lupa hal ini dan hanya berpikir tentang keuntungan yang bakal diperoleh. Keuntungan kini menjadi penguasa dirinya, ia telah berubah menjadi manusia yang egoistis, serta lupa memperhatikan nasib orang lain. Ia kini seakan telah mampu melihat akar penyakitnya sendiri, ia menemukan alasan yang senantiasa membuatnya cemas.
Ketika matahari telah hilang dan bentangan laut berubah merah, ia membuka bungkusan obatnya yang terakhir. Di sana tertulis: "Tulislah segala kecemasanmu di bibir pantai". Ia menuju bibir pantai, lalu menuliskan kata "Cemas". Ombak datang serentak dan menghapus apa yang baru dituliskannya. Bibir pantai seakan disapu bersih, kata "Cemas" yang baru ditulisnya hilang ditelan ombak.
Siapakah tokoh utama dalam kisah di atas tersebut?. Mungkin saya, mungkin pula anda. Pernahkah saya secara tulus mendengarkan bahasa bathin sendiri? Atau pernahkah saya mengingat segala yang manis maupun pahit yang terjadi di masa silam namun telah membentuk siapa saya saat ini? Apa yang menjadi motivasi utama hidup saya hari ini dan besok, dan apa kecemasan saya?
Sumber: Felicite Angela
Artikel Terkait
Setelah mendengarkan keluhannya, dokter memberikan empat bungkus obat sambil berpesan; "Besok pagi sebelum jam sembilan pagi engkau harus menuju pantai seorang diri sambil membawa ke empat bungkus obat ini. Jangan membawa buku atau majalah. Juga jangan membawa radio atau tape. Di pantai nanti anda membuka bungkusan obat sesuai dengan waktu yang tercatat pada bungkusannya, yakni pada jam sembilan, jam dua belas, jam tiga dan jam lima. Dengan mengikuti resep yang ada di dalamnya aku yakin penyakitmu akan sembuh."
Orang tersebut berada di antara percaya dan ragu akan resep yang diberikan dokter. Namun demikian pada hari berikutnya ia pergi juga ke pantai. Begitu tiba di pesisir pantai di pagi hari, sementara matahari pagi mulai muncul di ufuk timur dan laut biru memantulkan kembali sinarnya yang merah keemasan itu, sambil deru ombak datang silih berganti, hatinya dipenuhi kegembiraan yang amat dalam.
Tepat jam sembilan, ia membuka bungkusan obat yang pertama. Tapi tak ia dapati obat didalamnya, cuma secarik kertas dengan tulisan: "Dengarlah". Aneh bin ajaib, orang tersebut patuh pada apa yang diperintahkan. Ia lalu duduk tenang mendengarkan desiran angin pantai serta deburan gelombang yang memecah bibir pantai. Ia bahkan secra perlahan-lahan mampu mendengarkan setiap detak jantungnya sendiri yang menyatu dengan melodi musik alam di pantai itu. Telah begitu lama ia tak pernah duduk dan menjadi sungguh tenang seperti hari ini. Ia terlampau sibuk dengan usahanya. Saat ini ia merasa seakan-akan jiwanya dibasuh bersih.
Jam dua belas tepat. Ia membuka bungkusan obat yang kedua. Tentu seperti halnya bungkusan yang pertama, tak ada obat yang didapati kecuali selembar kertas bertulis; "Mengingat". Ia beralih dari mendengarkan musik pantai yang indah dan nyaman itu dan perlahan-lahan mengingat setiap jejak langkahnya sendiri sejak kanak-kanak. Ia mengingat masa-masa sekolahnya dulu, mengingat kedua orang tuanya yang senantiasa memancarkan kasih di wajah mereka. Ia juga mengingat semua teman yang ia cintai dan tentu juga mencintainya. Ia merasakan ada segumpal kekuatan dan kehangatan hidup memancar dari dasar bathinnya.
Ketika ia membuka bungkusan ketiga saat waktu menunjukan jam tiga tepat, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan: "Menimbang dan menilai motivasi". Ia memejamkam mata, memusatkan perhatiannya untuk menilai kembali niat pertama ketika ia membangun usahanya. Saat itu yang menjadi inspirasi utama ia membuka usahanya adalah secara gigih bekerja untuk melayani kebutuhan sesamanya. Namun ketika usahanya kini telah memperoleh bentuknya, ia lupa hal ini dan hanya berpikir tentang keuntungan yang bakal diperoleh. Keuntungan kini menjadi penguasa dirinya, ia telah berubah menjadi manusia yang egoistis, serta lupa memperhatikan nasib orang lain. Ia kini seakan telah mampu melihat akar penyakitnya sendiri, ia menemukan alasan yang senantiasa membuatnya cemas.
Ketika matahari telah hilang dan bentangan laut berubah merah, ia membuka bungkusan obatnya yang terakhir. Di sana tertulis: "Tulislah segala kecemasanmu di bibir pantai". Ia menuju bibir pantai, lalu menuliskan kata "Cemas". Ombak datang serentak dan menghapus apa yang baru dituliskannya. Bibir pantai seakan disapu bersih, kata "Cemas" yang baru ditulisnya hilang ditelan ombak.
Siapakah tokoh utama dalam kisah di atas tersebut?. Mungkin saya, mungkin pula anda. Pernahkah saya secara tulus mendengarkan bahasa bathin sendiri? Atau pernahkah saya mengingat segala yang manis maupun pahit yang terjadi di masa silam namun telah membentuk siapa saya saat ini? Apa yang menjadi motivasi utama hidup saya hari ini dan besok, dan apa kecemasan saya?
Sumber: Felicite Angela
HAPPY Easter 2012

Happy Easter to you all who celebrate our Savior ! ini merupakan paskah paling berkesan buat saya :)
sedikit background, kenapa saya bilang seperti itu..
“ Saat hati terasa berat..
Tak seorang pun mengerti hatiku, ku Tanya Yesus..
Apa yang harus kubuat “
Lagu itu bener2 merupakan salah satu lagu favorit saya, disaat kondisi saya benar2 tidak jelas.
Perasaan, pikiran dan semua yang ada di dalam kehidupan saya terasa begitu flat, terasa ada yang kurang.
Dan saya tahu, bahwa saya kurang dekat dengan Dia.
Kehidupan saya yang semakin sibuk dan berurusan dengan hal duniawi belakangan ini terlalu membelenggu saya untuk semakin jauh dari DIa.
Dan itu rasanya sungguh2 tidak enak.
And now, I just can say, I NEED YOU LORD.
Saya tak akan mampun terus bertahan dengan kondisi pikiran dan perasaan yang seperti tak berTuham.
Saya terus berjalan dan melangkah, dengan melibatkan sedikit Tuhan.
Pagi tadi saya bangun dan menyadari, betapa saya jauhhh dari Dia.
Saat itu saya berdoa, dan saya menitikkan air mata.
Tak terbayangkan betapa Tuhan yang selalu setia menunggu saya, tetapi saya malah pergi dan berlari menjauh dari Dia.
Dan ketika saya kembali, saya melihat Dia tetap setia dengan kedua tanganNya yang terbuka lebar memeluk saya.
Saya rindu Engkau. Saya butuh Engkau Yesus.
Berhari hari bahkan berbulan bulan aku menjauh dari pada Tuhan,
Tapi hari ini, Tuhan benar2 seperti ingin mengingatkan aku kembali.
Bahwa aku, hanyal sebutir pasir di pantai. Aku tak bisa berjalan sendiri.
Hari ini, aku pun ngga tahu apakah ini hanya kebetulan atau tidak. Bahkan aku sendiri sempat terkaget dan baru tersadar bahwa hari ini adalah hari Jumat agung, dimana Yesus mati dikayu salib untuk menebus semua umat kesayanganNya.
Aku percaya, ini bukanlah suatu kebetulan.
Melalui setiap masalah, saya dikuatkan. Saya dimampukan untuk bangkit dan maju bersama Dia, sahabat, Bapa dan raja atas hidup saya…
Dia memenangkan saya dari setiap masalah, dari setiap beban.
Hari ini, Yesus membawa saya kembali seperti dulu. Mengasihi Yesus, dan mau belajar setia di dalam DIA.
Yesss LORD !!!! You are the ONLY ONE , You are my priority, and NOBODY ELSE can do things like YOU DO !!!!!!!!!!!!! I surrender to YOU.
~strawberrygirls~
Subscribe to:
Posts (Atom)
